Selasa, 07 Oktober 2014

Tamu adalah dewa?

Suatu ketika, ada sepasang suami istri yang tinggal disuatu gubuk ditengah hutan. Suami istri ini sangat rajin melakukan penghormatan kepada dewa pujaannya. Kala itu, hari menjelang malam. Suami istri ini sedang melakukan pemujaan kepada dewa, dan disela-sela ritual mereka datanglah seorang petapa tua yang tak sengaja melintas depan rumah mereka.
"Salam...!" Kata yang terlontar dari petapa ini kepada mereka.
"Salam...!" Tidak ada tanggapan juga dari mereka.
"Salam...!" Untuk ketiga kalinya petapa ini menyapa mereka.

"Salam Tuan, apakah engkau bisa menunggu kami menyelesaikan ritual kami memuja dewa kami? baru kami bisa menyuguhkan sedekah untuk anda"
"Aku tidak bisa menunggu lagi, Aku juga tidak membutuhkan sedekah apapun dari kalian. Aku hanyalah seorang petapa yang tidak makan, juga tidak pula tidur. Bahkan aku belum sempat duduk. Maukah kalian meminjamkan rumah kalian untukku menginap malam ini?"

"Baiklah Tuan, kau boleh memakai gubuk kami untuk bermalam, dan kami berjanji tidak ada siapapun yang dapat mengganggu tidur anda malam ini, kami berjanji" Sahut sang suami

Malam pun kian larut, sang petapa akhirnya tertidur pulas seakan menggambarkan keadaannya yang tak pernah tidur sepanjang perjalanan yang Ia tempuh. Pasangan suami istri ini pun tidur diluar rumah beralaskan jerami.

Saat itu, tiba-tiba ada seekor ular sanca melintasi kaki mereka. Ular itu berhenti dan berdiri seakan ingin mematuk kaki sang istri. Sang suami yang terbangun karena kaget, berusaha untuk melindungi istrinya dengan menyodorkan tangannya untuk mengusir ular.

"Aku sudah berjanji kepada tamuku untuk tidak mengganggu tidurnya malam ini. Jika aku meminta bantuan orang lain, maka akan mengganggu tidurnya..."

Sang suami akhirnya terkena patukan dari ular, dan terkena racun yang sangat mematikan. Sambil menahan kesakitan ia menutup mulutnya untuk menjaga agar tidak menimbulkan suara berisik yang akan mengganggu tamunya yang menginap. Sungguh malang, suami itu tewas mengenaskan.

Keesokan harinya, sang istri yang melihat suaminya tergolek lemas dihadapannya hanya bisa berlinang air mata. Saat petapa bangun dan melihat apa yang terjadi, sang istri meminta untuk tidak usah khawatir atas kematian suaminya karena hal ini terjadi karena bagi mereka, seorang tamu adalah dewa bagi mereka.

Tanpa mereka tahu, petapa tersebut adalah jelmaan Mahadewa Siwa yang sedang menguji paktaNya. Apakah seorang pakta senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai dalam menerima seorang tamu. Mahadewa akhirnya menunjukkan wujud aslinya dan menghidupkan kembali suami yang tewas terkena racun ular tersebut. Keduanya, mendapat anugerah untuk dapat hidup bersama kembali di kelahiran berikutnya.

Rasulullah SAW pernah bersabda didalam sebuah hadits:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya. adapun kewenangan tamu (haknya) itu sehari semalam, dan (kewajiban) orang yang menjamu untuk menyuguhkan adalah tiga hari" (HR Bukhari)

Hmm, berulang kali dipikirkanpun tak ada yang masuk akal dari cerita diatas. bagaimana mungkin hanya untuk memuliakan seorang tamu hingga rela untuk mengorbankan nyawa. Ya kalau dihidupkan lagi, nah kalau mati gitu aja bejimane?? Aneh, emang siapa tamu kok harus dipuja-puja bak dewa turun dari kahyangan?

Tidak Islam, tidak juga Hindu. keduanya mengajarkan untuk memuliakan tamu seakan sebagai seorang raja. namun kenapa? kenapa tamu?





1 komentar:

  1. Terimakasih, postingan-nya sangat bagus sekali. Senang sekali berkunjung ke blog anda. saya bantu share ya gan? semoga dapat bermanfaat buat kita semua. Amin :D :D

    BalasHapus

Exchange 2010 SP3 PrepareAD error “The well known object entry with the GUID”

Currently we are going to upgrade Exchange 2010 SP1 to Exchange 2010 SP3 which is one of the step is preparing AD. But in the mid of proces...