Kamis, 14 Juli 2011

Pujian bagiMu

Wahai... demi tujuh lautan dunia yang membentang hambaran malam....
demi bintang-bintang yang menerangkan langit dan kuasaMu...
Engkau.. bagai hamparan pasir sahara,, yang tak kan sanggup aku menghitungnya
tatkala menyangsikanMu,,

Kau...  Kau yang menyandang gelar Itu,,,
tiada sifat terpuji didunia yang bukan berasal darimu...
Kau..   mereka semua tidak ada pemilik selain diriMu...
Kau...  yang tak kan berani orang memandangMu sebelah mata...
karena Kau tak pernah pula melakukannya...
Kau...  bagaikan hamparan samudra,, yang meski aku sanggup menghabiskannya..
aku tak akan sembuh dari rasa haus ini...

tapi kenapa? kenapa Kau tak mau dikritik?
Kau... dan didalam jalanMu tersimpan sesuatu...
Kau luapkan marahMu padaku...
saat aku mencoba mengertiMu?
Kau... yang memiliki segala sifat terpuji itu....
tergoyah oleh cacimakiku??

aku hanya ingin mencariMu...
menelusuri jalan yang sedikit berbeda, tetapi bukan untuk mengejutkanMu...
karena didalam jalan mereka,,,, aku akan melihat pandangan yang berbeda
mengenai jalanMu,,,
tak pernah sedikitpun aku menyangsikanMu...
aku,,, seperti ini hanya untuk lebih dekat denganMu..
karena Cintaku padaMu

widz

Rabu, 13 Juli 2011

"The Choice", Cemburuku, Ahmad Deedat

assalaamu’alaikum wr. wb.

Jika aku pernah mengaku tidak cemburu padamu, maka itulah salah satu kebohongan terbesar yang pernah terucap dari lisanku, duhai Ahmad Deedat yang dirahmati Allah…

Kemarin saya berjalan-jalan di sebuah toko buku dan melihat buku “The Choice” edisi terbaru dengan sampulnya yang berwarna merah jambu.  Berbeda dengan edisi terdahulunya yang saya beli bertahun-tahun yang lalu dan kini entah dimana.  Seingat saya buku itu dipinjam oleh seorang teman, tapi entah teman yang mana.  Teman saya banyak sekali, alhamdulillaah!

Bertahun-tahun yang lalu, ketika saya khatam membaca buku itu untuk pertama kalinya, saya bertekad akan menjadi Ahmad Deedat berikutnya.  Bukan, bukan menjadi kristolog (walaupun kristologi tetap menjadi salah satu subjek yang paling menarik bagi saya), namun menjadi manusia yang memiliki pikiran yang sangat tajam disertai ketelitian yang mengagumkan.  Siapa yang tidak mau seperti itu?

Melihat buku itu di atas rak buku di toko membuat semua perasaan muncul secara bersamaan.  Ada kenangan manis yang membuat senyum tersungging, ada juga perasaan sedih yang membuat mata serasa ingin meleleh.  Betapa kagetnya saya ketika mendengar kabar wafatnya Ahmad Deedat.  Ah, saya benar-benar kehilangan.  Betapa sedihnya hari itu.

Belajar dari masalalu

Bangsa-bangsa yang Dihancurkan Allah
BY: HARUN YAHYA
Usai beribadah haji atau umrah —kalau masih punya kesempatan dan uang lebih— Anda boleh singgah di Yordania, sebuah negeri kerajaan di sebelah utara Arab Saudi. Di sana ada sebuah daerah bernama Lembah Rum atau Lembah Petra yang menyimpan peninggalan purbakala nan mempesona.

Di lembah itu Anda dapat menemukan bangunan-bangunan indah dan besar seperti istana kekaisaran Romawi. Keindahan dan kekokohan bangunannya memang bisa membuat Anda berdecak kagum. Tapi yang lebih mengagumkan dan akan membuat Anda geleng-geleng kepala, ternyata bangunan itu dibuat dengan cara memahat bukit-bukit batu cadas. Orang modern sekarang ini pun belum tentu dapat membuat bangunan seperti yang mereka buat. Siapakah mereka yang membuat bangunan menakjubkan itu?
Kaum Tsamud

samakah otak kita dengan Einstein??

Di dunia ini siapa yang tidak mengenal einstein. Ilmuwan yang lahir di Ulm, Kerajaan Württemberg, Kerajaan Jerman, 14 Maret 1879 merupakan sosok yang telah menghebohkan dunia science bahkan sampai sekarang ini. teori-teorinya menjadi dasar temuan teori-teori berikutnya. Sosok briliant ini pernah mendapat Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan “pengabdiannya bagi Fisika Teoretis”.
Hal inilah menimbulkan rasa penasaran bagi banyak ilmuwan lainnya mengenai otak yang ada di kepala einstein, kok bisa gitu ya sedangkan orang lain nggak. 7 jam pasca kematian ilmuwan jerman ini otaknya dibedah untuk diteliti. Dr. Diamond mantan kepala Lawrence Hall of Science di Universitas California Berkeley mendapat kehormatan untuk membedah dan mempelajari otak Albert Einstein. Dr Diamond menggunakan petunjuk dari kata kata Einstein sendiri, Einstein pernah berkata bahwa ketika ia tenggelam dalam pikirannya , kata – kata tidak pernah bermain dalam renungan batinnya. Bahkan menurutnya pikiran- pikirannya adalah kombinasi dari “tanda-tanda tertentu dan gambar-gambar yang kurang lebih jelas”. Dengan kata lain, pikiran Einstein yang paling produktif dihasilkan dari fungsi kognitif yang terkait secara fisual dan sangat abstrak. Karena itu Dr.Diamond memutuskan untuk memusatkan studinya pada bagian khusus otak Einstein yang terkait erat dengan pencitraan dan pemikiran abstraknya: lobus prefrontal superior dan lobus parietal inferior.

waktu, dan keinginan

Baru aja sadar hari ini ketika mbak (panggilan untuk kakak perempuan) menanyakan waktu sholat, dan ponakanku nyeletup... "itu jamnya telat,, nonton jam HP aja..." hmm? sampai seorang anak kecil yang masih duduk di kelas 5 SD itupun menyadari bahwa jam yang ada disetiap suduh rumah ternyata terlambat... bener2 kejadian yang aneh, bagaimana bisa secara kompak jam yang ada disetiap penjuru rumah terlambat 10 menit, atau mungkin lebih? saya tidak begitu memperhatikannya tadi.. aneh, karena ketika saya tanyakan papi dan mami, tak ada 1pun yang telah merubah posisi jarum dari jam-jam itu... tetapi seluruh jam telah bergeser 10 menit... bagaimana ini bisa terjadi? sungguh diluar nalar...
terutama jam yang ada dikamar saya, jam ini tak pernah lepas dari pengawasan saya. baik akan tidur, ketika bekerja, ketika ngegame, atau mengingat waktu sholat, saya selalu mencocokkan jam yang ada dikamar dengan jam HP dan laptop.. anehnya, kedua pewaktu ini cocok... tetapi, ada apa dengan jam-jam dirumah saya? beberapa hari yang lalu saya memang sudah sadar bahwa jam ditempat saya terlambat, tetapi saya kurang memperhatikannya... bener2 sebuah pertanda... pertanda apa? ini adalah sebuah pertanyaan besar...

Mengkaji diri

Beberapa waktu yang lalu, kurang lebih 2 bulan yang lalu saya diberikan nikmat yang luar biasa dari Allah, berupa penundaan kelulusan saya dari bangku perkuliahan.. Alhamdulillah, sebuah nikmat yang akan jarang saya dapatkan dihari kelak. hmm,, mungkin akan bertanya-tanya, bagaimana sebuah kegagalan bisa disebut nikmat? 
mungkin tepatnya detik dimana saya menuliskan blog ini, jika mengingat kembali detik-detik yang telah berlalu dalam kehidupan saya setelah hari yang "kelam" itu,, saya tidak ubahnya dengan seekor ulat yang mati suri, kepongpong muda yang belum siap menerima kenyataan bahwa ia harus bermetamorfosis.... ini adalah takdirnya! hidup benar-benar seperti riak air yang terhembus sang bayu... mudah goyah, butuh "kecerdasan" untuk dapat mengendalikan kapal agar dapat tetap stabil dalam lajunya yang kencang diterpa hujan badai... tanpa itu semua? karam.....


pernah saya bertanya-tanya, atau mungkin sangat sering... atau mungkin selalu.. selalu mempertanyakan diri saya, untuk apa saya hidup, untuk apa saya terlahir didunia, dan untuk apa Tuhan masih memberikan saya kesempatan untuk hidup hingga hari ini? untuk apa Tuhan masih membiarkan "sampah" yang tak berguna ini? kenapa tak membuangnya saja? pertanyaan-pertanyaan putus asa dari dalam diri ini... mungkin ini pertanyaan yang selalu setia menghadiri kehidupan saya dua bulan terakhir ini... "Tuhan, betapa lemahnya diriku... aku hanya ingin seperti yang lain... hidup ceria, tanpa beban yang membelengguku seperti yang aku rasakan saat ini...." perenungan yang tiada habisnya saya lalui hingga detik ini... lalu, ketika menuliskan tulisan ini,,, saya jadi teringat beberapa masa yang lalu, Tuhan bukanlah pertamakali memberiku nikmat atau mungkin lebih tepatnya cobaan keimanan ini... Ia sudah kerap kali membuatku bertanya-tanya tentang kehidupan,, Ia telah mengenalkanku tentang arti kehidupan... Ia telah memberikan pengajaran, bagaimana saya seharusnya memandang hidup ini...

Sabtu, 02 Juli 2011

Sudahkah aku bersyukur?

 ...karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. (QS al-A’raf:16—17)

ayat diatas adalah petikan dari surat al-A'raf, dimana terjadi dialog antara Sang Khaliq dan hamba Allah bernama Iblis. didalam dialog sebelumnya, Iblis digambarkan sebagai pribadi yang angkuh, sombong dan mendustakan perintah Tuhan untuk bersyujud kepada manusia.  Saya tidak akan mempertanyakan kenapa Tuhan tidak memaafkan Iblis padahal Tuhan maha pemaaf, saya juga tidak akan mempertanyakan alasan Iblis enggan mematuhi perintahNya padahal kita tau Iblis adalah mahlukNya yang sangat taat. Saya juga tidak akan bertanya mengapa Iblis yang begitu taat menjadi begitu sombong,, kalo manusia sombong itu karena meniru sifat Iblis,, lalu kalo Iblis sombong itu niru sifat siapa? aduh,, akhirnya nanya juga.. hehe...

bagi saya, bukan pada dialognya yang saya anggap penting,, tetapi pelajaran apa yang Tuhan ingin tunjukkan kepada manusia mengenai dialog Tuhan dengan hambanya yang sangat setia ini (dulunya)... "...Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur". penggalan ayat tersebut menunjukkan bahwa Iblis pun mengenal "rasa bersyukur" kepada Tuhan. akan tetapi kenapa ia mengajak manusia untuk tidak bersyukur padahal ia tau setiap mahlukNya diwajibkan untuk bersyukur sebagai ungkapan terima kasih atas segala nikmat yang diberikan Allah? 

Exchange 2010 SP3 PrepareAD error “The well known object entry with the GUID”

Currently we are going to upgrade Exchange 2010 SP1 to Exchange 2010 SP3 which is one of the step is preparing AD. But in the mid of proces...